< img height="1" width="1" style="display:none" src="https://www.facebook.com/tr?id=485664114973494&ev=PageView&noscript=1" />
Waspada penipuan, hati-hati dengan website/pihak lain yang mengatasnamakan PT. Victory International Futures
Market Review

NEWS & ANALYSIS / Market Review

Kombinasi pernyataan presiden AS dan perdana menteri Inggris memaksa dollar melemah tajam terhadap sejumlah mata uang rival pada perdagangan Selasa (17/1).

Presiden AS Donald Trump kembali mengecam kebijakan nilai tukar mata uang China yang menurutnya membunuh daya saing AS. Trump menuding China dengan sengaja melemahkan mata uangnya sehingga produk-produk AS sulit bersaing di pasar internasional seiring tingginya nilai tukar dollar.

Pernyataan Trump menggiring para pelaku pasar pada wacana pemerintah AS mungkin akan melakukan sesuatu guna mengatasi terlalu tingginya nilai tukar dollar.

Terhadap dollar, euro melonjak hingga 1.0719 sebelum akhirnya ditutup menguat satu persen lebih di kisaran 1.0713.

Mengekor euro, franc Swiss membukukan gain satu persen pula dengan ditutup di 1.0014 per dollar.

Demikian pula yen, diperdagangkan di 112.60 per dollar pada akhir perdagangan Selasa, menguat sekitar 1,38 persen.

Versus dollar Australia, dollar terdepresiasi 1,2 persen di 0.7566.

Sedangkan harga emas dunia terpantau di kisaran $1216.90 per troy ounce, naik 1,18 persen dari posisi pembukaan.

Sementara itu, gain besar dibukukan pound sterling yang berakhir menguat 3,04 persen di 1.2414 terhadap dollar. Pound melambung setelah PM Inggris Theresa May mengatakan akan membawa segala keputusan terkait Brexit ke mekanisme voting parlemen.

May juga berjanji Inggris akan tetap menjadi rekan yang dapat diandalkan, sekutu yang siap membantu, dan sahabat dekat bagi negara-negara anggota Uni Eropa. Ditambahkannya pula bahwa Inggris menginginkan hubungan dagang yang sebebas mungkin dengan mereka.

Pidato May mengindikasikan Inggris akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak membuat langkah gegabah yang bakal melukai perekonomian mereka sendiri pasca-Brexit.

Pound sebelumnya juga mendapatkan support dari data inflasi yang menunjukkan CPI meningkat dengan laju tercepat dalam dua tahun terakhir. (atz)

Poundsterling ambles menyentuh level terendah tiga bulan pada perdagangan sesi Asia Pagi ini (16/1). Mencuatnya kembali kekhawatiran seputar proses Brexit menggiring pound melemah hingga 1.1994 terhadap dollar, terendah sejak Oktober 2016.

Kabar yang dilansir The Sunday Times menyebutkan bahwa PM Inggris Theresa May rela melepas pasar tunggal Uni Eropa demi mendapatkan kembali kendali atas perbatasan Inggris. May dijadwalkan berpidato pada Selasa besok waktu setempat.

Read more...

Dollar menguat tajam pada perdagangan Rabu (14/12), menyusul naiknya suku bunga The Fed. Sejalan dengan ekspektasi pasar, The Fed secara bulat memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi kini antara 0,50 hingga 0,75 persen.

Namun, yang mengejutkan para pelaku pasar, The Fed juga mengatakan mungkin akan menaikkan suku bunganya lagi tiga kali pada tahun 2017 mendatang. Pada proyeksi sebelumnya, The Fed memrediksikan suku bunga hanya akan naik dua kali tahun depan.

Read more...

Harga emas dunia terus jatuh menyusul kemenangan mengejutkan Donald Trump dalam pilpres AS. Pada perdagangan Jumat (11/11), logam mulia anjlok hingga $1218.85 per troy ounce, terendah dalam lima bulan.

Demand atas emas sebagai safe-haven menguap seiring harapan bahwa kebijakan-kebijakan Trump akan mendongkrak konsumsi dan inflasi AS. Sebelumnya, Trump dikhawatirkan akan menerapkan kebijakan ekonomi yang protektif.

Ekspektasi naiknya konsumsi dan inflasi pun sejalan dengan rencana kenaikan suku bunga The Fed.

Read more...

Euro melemah terhadap dollar pada perdagangan Kamis, (20/10), seiring komentar Presiden ECB Mario Draghi.

Dalam konferensi pers seusai rapat kebijakan bank sentral, Draghi mengatakan para pembuat kebijakan tidak membahas masalah penambahan program pembelian obligasi ataupun pengurangan skala pembelian aset. Menurut Draghi, proyeksi ekonomi masih cenderung menurun sebagai dampak dari beberapa faktor eksternal.

ECB sendiri, sejalan dengan ekspektasi pasar, kemarin memutuskan untuk mempertahankan suku bunganya di level nol persen. Demikian pula untuk program Quantitative Easing, tetap pada besaran 80 miliar euro per bulan.

Read more...

VIF Events and Promo

Bappebti Adakan Pelatihan Teknis Penyediaan dan Pe…

Kamis, 20 April 2017 lalu, Bappebti menyelenggarakan Pelatihan Teknis Penyediaan dan Pengembangan In...

PalComTech JobFair 2017

PT. VIF Cabang Palembang akan berpartisipasi dalam even Seminar Karir dan Bursa Kerja PalComTech 201...

Gathering Nasabah VIF cabang Mataram

PT. Victory International Futures cabang Mataram pada tanggal 17 Februari 2017 mengadakan Gathering ...

Kompetisi Demo Trading Multilateral ICDX

Pada tanggal 23–24 November 2016 yang lalu, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI)...

Job Fair UNTAG 2016

PT. VIF Cabang Semarang turut serta dalam Job Fair yang diadakan oleh UNTAG Semarang pada tanggal 11...